artikel disertasi

PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI PERGURUAN TINGGI

DENGAN PEMODELAN WIRAUSAHAWAN

USAHA KECIL DAN MENENGAH SUKSES

Oleh :Wiedy Murtini

 

ABSTRACT

 

This study was conducted to develop a course outline and program as well as teaching materials in achieving and preparing graduates with entrepreneurship ability.  The aims of this study might be stated in six details.  The first of them, describing the implementation of the entrepreneurship education programs at the universities.  Second, describing the success stories of entrepreneurs in handling their business who are chosen to be the model for the typical entrepreneur program.  Third, describing the entrepreneur course outline based on the chosen successfull entrepreneurs.  Fourth, validate the entrepreneurship course design being developed.  Fifth, doing some kinds of tryout evaluate the effectiveness of the course design.  Finally, revising course outline and materials based on the results of the tryout and the concept of developing such a program.

This study might be classified as a research and development approach with three steps; those are explorative study, development, and field tryout.  The exploration was conducted to explore the success story of small and medium entrepreneurs and the teaching practice of entrepreneurship courses in universities.  Results of the explorative study were some success stories of entrepreneurs and conceptualization of the teaching outline and course program based on those success stories.  The second step was focused mainly on the development of first version of the teaching materials based on literatures and description of the success stories of the entrepreneur models being observed throughout the first step of the study.  In order to validate the course outline and programs, as well as teaching materials, in this step included focus group discussions and peer lecturer reviews which was conducted at the “Sebelas Maret” State University of Solo.  The peers are lectures with entrepreneur course specialists at the university who have at least five years teaching experience.  The result of the second step was course program and teaching materials which was ready to be field tried out.  The last step was field tryout of the course program and teaching materials to the students enrolled to an entrepreneurship class.  One of the teaching tools and materials is video recorded description of the success story one of those successful entrepreneurs. The researcher acted as the lecturer on the experiment class.  The experiment was conducted in a single group pre-post test design.  Before first class meeting, students were given an entrepreneur scale to get some criterion on the need to be entrepreneur.  At the end semester, students were assessed with test, classroom project on writing a simulated business plan, and give response to an entrepreneur scale.  Then, the data of the field try out were analyzed both qualitative and quantitative descriptive modes to find the weaknesses of the course design and teaching materials.  The entrepreneur scale responses were also statistically analyzed using t-test dependent sample, resulting some statistically different on the entrepreneurship needs after and before attending the class.

 

The main products of this study are  include (a) information of the characteristics of the entrepreneurship course being developed; (b) course objectives and student success indicators; (c) course outline and selected teaching materials; (2) course syllabus; (3) instructional strategic,  manuals for student group discussion, course works and projects; (6) the needs to be entrepreneur scale administered before first classroom meeting and at the end semester, with its response sheet; (7) assessment procedures and samples of student works; and (8) samples of teaching aids.

 

Kata kunci:  desain pembelajaran, kewirausahaan, pemodelan, wirausahawan UKM

 

PENDAHULUAN

 

Pada abad 21, persaingan dan tantangan semakin berat.  Tidak hanya persaingan tingkat lokal, regional, dan nasional saja yang di hadapi, tetapi persaingan global dari berbagai negara.  Globalisasi telah menuntut untuk mengubah tatanan kehidupan dalam masyarakat dengan mempersiapkan dan membenahi sumberdaya manusia (SDM) yang kita miliki.  Selama tahun 1980an dan 1990an, terlihat perubahan secara historik dalam dunia ekonomi.  Perubahan ini disebut dengan ”the new world order”.  Tonggak perubahan yang lain adalah tumbuhnya dengan cepat Entrepreneurship yang menjadi ”major source of vitality in today`s world economy” (Lambing & Kuehl, 2003)..

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terungkap bahwa bagi bangsa Indonesia, usaha mencerdaskan bangsa dilakukan seiring dengan usaha memajukan kesejahteraan bangsa.  Dengan demikian, pendidikan seharusnya mensinergikan usaha  mencerdaskan  bangsa dengan usaha mensejahterakan bangsa (DP3M, Dirjen Dikti, 1998:1). Orientasi  kebijakan pendidikan nasional di Indonesia yang disesuaikan dengan tuntutan global adalah, dengan menerima tantangan dan menangkap kesempatan untuk masuk dalam kancah perekonomian global.  Globalisasi membutuhkan wirausahawan-wirausahawan (entrepreneurs) yang berpendidikan dan berpengetahuan luas serta menguasai teknologi, yang mampu menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang di kawasan free trade (pasar bebas), yang akan dimulai tahun 2020 untuk wilayah Asia Pasifik (Idrus, 1999). Torch (dalam Tolla, 2002) menganggap bahwa manusia berjiwa “entrepreneurial and managerial capabilities and self-help activities” sangat diperlukan.  Entrepreneur adalah seorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas, yang sebagian besar mereka adalah pendorong perubahan, inovasi, kemajuan dan perekonomian yang akan datang, orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk mengambil risiko dan mempercepat pertumbuhan ekonomi (Longenecker, Moore, & Petty, 2001).

Perguruan Tinggi sebagai penghasil tenaga berkualitas, berperan serta dalam mensejahterakan bangsa, membangun ekonomi yang kini masih terpuruk.  Jiwa wirausaha terwujud sebagai sublimasi dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengetahuan kewirausahaan dalam diri setiap atau paling tidak sebagian besar lulusan perguruan tinggi diIndonesia(DP3M, Dirjen Dikti, 1998). Data 1996 yang dikemukakan DP3M, Dirjen Dikti (1998) menyebutkan sekitar 34 juta pengusaha kecil yang tersebar di seluruh Indonesia, hanya 3-5% berpendidikan tinggi dengan kurang dari 2% diantaranya lulusan Diploma/Politeknik.  Sekitar 75-85% di antara pengusaha kecil tersebut paling tinggi adalah lulusan Sekolah Dasar.  UKM mempunyai permasalahan yang memerlukan perhatian dan sangat membutuhkan uluran tangan ahli atau sumberdaya manusia  berkualitas yang terdidik, yang bisa mengelola UKM dengan baik. Perguruan Tinggi (PT) merupakan institusi penghasil sumberdaya manusia terdidik yang diharapkan dapat memperbaiki pengelolaan UKM tersebut.

Pendidikan lebih banyak menghasilkan lulusan pekerja yang  walaupun berpengetahuan tinggi, bukan wirausahawan dengan penguasaan ilmu dan teknologinya bisa secara mandiri dapat mensejahterakan diri dan mensejahterakan masyarakat. Sementara itu, berdasarkan kondisi objektif masyarakat, khususnya Perguruan Tinggi (PT) sebagai penghasil sumberdaya manusia berkualitas, ternyata masih belum mampu menghasilkan lulusan yang siap untuk berusaha secara mandiri. Mandiri dalam arti, bisa memulai usaha sendiri bukan hanya menunggu “diberi pekerjaan”.  Hal ini ditandai dengan adanya (1) angka pengangguran lulusan PT yang cukup tinggi yaitu 541.000 orang pada tahun 2001; (2) kesulitan mencari kerja dengan masa tunggu (job seeking period) yang cukup lama (Ditjen Dikti, 2003); (3) over supplied lulusan secara kuantitas tetapi under supplied lulusan secara kualitas; (4) perilaku jiwa wirausaha lulusan masih rendah; (5) relevansi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja yang masih kurang; (6) kecakapan hidup rendah yang ditandai dengan lemahnya komunikasi verbal dan melalui media tulis, lemahnya penguasaan bahasa asing, dan lemahnya penggunaan teknologi informasi; (7) kurang mampu bersaing secara global, yang ditandai dengan peringkat PT Indonesia, UI berada pada peringkat 63 dan UGM pada peringkat 68 dari 77 PT di Asia, dan tidak adanya PT Indonesia yang masuk pada 100 Universitas terbaik di Asia Pasifik (Ditjen Dikti, 2004); dan (8) masih lemahnya jaringan kemitraan dengan dunia industri (Mukhadis,2004).

Berkaitan dengan pentingnya masalah kewirausahaan bagi perbaikan perekonomian negara, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden R.I. Nomor 4, tahun 1995 tentang “gerakan nasional memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan”.  Kemudian Inpres ini ditindaklanjuti oleh Depdiknas, dalam beberapa tahun terakhir khususnya Dikti, dengan diluncurkannya pengembangan kewirausahaan ini dalam bentuk paket-paket pendidikan dan kegiatan bagi mahasiswa.  Program ini merupakan bentuk dari kepedulian pemerintah dan perguruan tinggi terhadap masih tingginya tingkat pengangguran dikalangan terdidik khususnya lulusan perguruan tinggi dan dalam rangka menjawab tantangan serta mengambil kesempatan untuk masuk dalam kancah perekonomian global.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di berbagai perguruan tinggi, program pengembangan kewirausahaan ini masih banyak memakai pendekatan proyek, yang artinya penyelenggaraan program pengembangan berdasarkan dana proyek yang dibiayai oleh pemerintah.  Pada awal proyek yang diluncurkan Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian  pada Masyarakat (DP3M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) tahun1999- 2000, telah menawarkan berbagai kegiatan dalam program pengembangan budaya kewirausahaan ke berbagai PT. Proyek pengembangan kewirausahaan ini hangat dibicarakan dan beberapa PT siap untuk mengambil peran.  Namun demikian, dalam salah satu kegiatan pengembangan budaya kewirausahaan yang dilaksanakan dengan sistem perkuliahan, di beberapa perguruan tinggi masih terkesan asal jalan dan tidak menstimulasi tumbuh dan berkembangnya jiwa wirausaha.

Dalam pelaksanaan kuliah kewirausahaan sebagai bagian dari program pengembangan budaya kewirausahaan, di beberapa perguruan tinggi mempunyai kebijakan yang berbeda-beda. UNS dan ITS  yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mendirikan Regional Development Business Incubator Center (RED BIC) pada tahun 1994,  bekerjasama dengan pihak Pemda sertempat, menindaklanjuti dengan diwajibkannya kuliah kewirausahaan di UNS dan ITS. Pelaksanaan program pendidikan kewirausahaan ini kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi lainnya. Seperti contohnya, Universitas Gajah Mada (UGM),Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan beberapa perguruan tinggi negeri lainnya. Di UGM, mata kuliah kewirausahaan adalah mata kuliah pilihan untuk bidang studi non ekonomi, demikian juga dengan Unibraw/UB (2003).  Namun untuk periode tahun ajaran 2004, Unibraw merencanakan kewirausahaan menjadi mata kuliah wajib untuk semua bidang studi. Di Fakultas Ekonomi UM, mata kuliah kewirausahaan tidak tercantum dalam kurikulum sebagai mata kuliah wajib program studi manajemen untuk Strata I tetapi untuk program diploma manajemen pemasaran tercantum sebagai mata kuliah wajib dengan beban 3 SKS (data kurikulum dan silabus S1 Manajemen FE, UM dan silabus D3 manajemen konsentrasi pemasaran, 2003). Informasi terakhir (2006-2007) UM sudah mewajibkan mata kuliah Kwu bagi Fakultas Ekonomi (FE).

Model pembelajaran pendidikan kewirausahaan yang dilaksanakan di program studi manajemen /S1, Fakultas Ekonomi, Unibraw dan program Studi Manajemen Konsentrasi Pemasaran /D3, UM, selain model pembelajaran dengan pendekatan ceramah, dikembangkan model pendekatan diskusi antara dosen dan mahasiswa dan praktek Kwu.  Pada akhir perkuliahan,  mahasiswa diberi kesempatan untuk membuat ”busines plan” yang akan diaplikasikan pada akhir semester sebagai praktek wirausaha di kampus. Namun, kendala pendanaan untuk mendatangkan praktisi ke kampus dan untuk penyelenggaraan praktek wirausaha selalu menjadi masalah.

Untuk Universitas yang mempunyai cukup dana, bisa mengeluarkan bantuan untuk kegiatan praktik wirausaha kepada mahasiswa, baik melalui jurusan atau fakultas (FE Unibraw). Namun masalah dana akan menjadi kendala untuk dapat secara rutin mendatangkan praktisi wirausaha sebagai dosen tamu atau nara sumber maupun kegiatan praktek wirausaha.  Selain itu masalah kesesuaian waktu dari para nara sumber praktisi wirausaha yang harus secara terjadwal untuk datang di kelas, akan menjadi kendala yang lain.  Akhirnya dengan alasan inilah strategi pembelajaran di beberapa PT masih banyak menggunakan  pendekatan ceramah yang menekankan pada penguasaan teori.

Hasil studi pendahuluan di UNS, UNY, UNP, UM, Unibraw, UGM menunjukkan adanya desain pembelajaran yang lemah. Adanya mata rantai yang terputus antara apa yang diajarkan (materi) di bangku kuliah dengan apa yang terjadi di lapangan, karena kurangnya informasi dan net working antara pihak kampus dan pihak dunia usaha. Kesenjangan tersebut bisa disambung atau dijembatani dengan menjalin kerjasama dengan para praktisi kewirausahaan /wirausahawan yang menguasai informasi dan seni berwirausaha.  Sasaran pembelajaran yang mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar banyak yang tidak tercapai, karena selain strategi pembelajaran,  pengukuran serta evaluasi program pembelajaran kurang terencana dengan baik.   Penilaian yang cenderung subjektif, tidak mempunyai acuan kriteria yang jelas. Kurangnya sarana dan kurang dimanfaatkannya sarana media pembelajaran.  Beberapa masih menggunakan papan tulis (white board) dan sebagian menggunakan overhead tranparency (UNP, UM, UNY, dan UNS, 2003) serta program power point (UB & UGM, 2003).

Oleh karena itu, dalam rangka ikut mensukseskan program pemerintah dalam mengembangkan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi, dan mengatasi kendala-kendala dalam pelaksanaan proses pembelajaran, perlu diciptakan suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien, menarik dan mengacu pada model yang ingin dicontoh dan dikembangkanModel yang ingin dicontoh untuk pendidikan kewirausahaan adalah mengacu pada ”succes storytokoh-tokoh atau figur wirausahawan UKM.  Kehidupan yang sukses adalah dambaan setiap orang, demikian juga para mahasiswa setelah menyelesaikan studinya di PT.  Pertanyaan yang muncul adalah, bekal apa yang akan diperlukan untuk mencapai kehidupan yang sukses seperti wirausahawan tersebut?  Bagaimana caranya agar mahasiswa tertarik untuk meniru perilakunya?.  Dalam hal ini,  Muchlas Samani (2007: 36) menyatakan, ” Cara berpikir yang paling mudah untuk menemukan kunci orang sukses adalah dengan pola berpikir induktif, yaitu mengidentifikasi orang-orang sukses, kemudian mencermati apa kunci rahasia sukses mereka”.  Dari banyak kasus tentang karakteristik orang sukses, akan dapat dilakukan generalisasi, yang akhirnya akan diperoleh karakteristik orang sukses yang berlaku universal.

Dengan model desain pembelajaran yang dikembangkan dengan menggunakan modeling wirausahawan UKM sukses, yang dilengkapi dengan media film pembelajaran berupa ”success story”,  diharapkan selain dapat mengatasi  kesulitan untuk mendatangkan praktisi wirausaha di kelas secara langsung, juga dapat dipakai sebagai motivator, inspirator dan sekaligus informan bagi mahasiswa yang ingin berwirausaha nantinya. Media pembelajaran ini bukan berarti samasekali menggantikan fungsi wirausaha sukses tetapi model akan dihadirkan di kelas bilamana diperlukan.  Pengembangkan ide bisnis oleh para mahasiswa yang dituangkan dalam bentuk tugas merancang bisnis/usaha yang akan dikembangkan, observasi ke lapangan di UKM sukses, serta membuat studi kelayakan usaha, akan membantu mahasiswa untuk mengembangkan imajinasi, internalisi dan termotivasi untuk berwirausaha dengan melalui observasi, eksplorasi dan refleksi. Seperti yang diungkapkan oleh Raka (2004:1) ”proses pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan, tapi juga mencerahkan atau mengembangkan kesadaran baru, membangun keyakinan, dan mengembangkan sikap.  Selanjutnya Gede Raka juga menyatakan bahwa “ proses belajar juga tidak hanya melalui pemahaman, penghapalan, dan analisis, namun juga melalui observasi, imajinasi, eksplorasi, dan refleksi, sehingga proses belajar menjadi bermakna.

Dalam hal pendidikan kewirausahaan ini, Carolyn Brown (2000: 3) menyatakan “Entrepreneurship education is a growing field of interest in university business schools, community colleges, and public schools.  Curiculum for entrepreneurship education is beeing developed, refined and debated at numerous institutions across the country”.  Selanjutnya Brown (2000) menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan harus dipandang secara luas dalam terminologi keterampilan yang dapat diajarkan dan karakteristik yang dapat membangkitkan motivasi para siswa atau mahasiswa  sehingga dapat menolong mereka untuk mengembangkan rencana baru dan rencana inovatif sebuah usaha bisnis baru.

Beberapa pendapat menyatakan bahwa proses entrepreneurship termasuk didalamnya proses entrepreneurship sebagai seni, dan proses entrepreneurship sebagai ilmu pengetahuan (Jack & Anderson, 1999; Kasarda, 1992; dan Bridge, O`Neil, & Cromie, 1998 dalam Jack & Anderson 1999). Konsekuensinya, untuk mengajarkan pendidikan entrepreneurship seorang pendidik harus memadukan kedua aspek tersebut, yaitu membekali ilmu pengetahuan tentang entrepreneurship dan juga seni entrepreneurship yang diperoleh dari mengalihkan pengalaman dari para wirausahawan yang telah sukses dalam mengelola bisnisnya.  Sebagai seni, wirausaha adalah, “the art is seen as more problematic; it is experiential, founded in inovation and novelty but based on heuristic practice” (Jack & Anderson, 1999:111). Oleh karena itu, para praktisi wirausahawan sukses ini berperan untuk menjembatani kesenjangan antara entrepreneurship sebagai ilmu pengetahuan dan entrepreneurship sebagai seni.  Dari pengalaman-pengalaman selama perjalanan meraih sukses dapat ditemukan teori-teori yang berguna untuk pengembangan teori-teori kewirausahaan.

Pendapat lain menyatakan bahwa konsep dasar kewirausahaan dapat di awali dengan proses imitasi dan duplikasi, kemudian berkembang menjadi proses pengembangan, dan berakhir pada proses penciptaan sesuatu yang baru dan berbeda (inovasi).  Tahap proses penciptaan yang baru dan berbeda inilah yang disebut dengan tahap kewirausahaan (Suryana, 2003). Dalam teori pembelajaran sosial, yang merupakan perluasan dari teori pembelajaran berdasarkan perilaku tradisional yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1977), mengemukakan bahwa konsep pemodelan (modelling) sebagai suatu proses pembelajaran dengan meniru perilaku orang lain yang dijadikan model.  Pengalaman “vicarious” yaitu belajar dari apa yang telah dilakukan orang lain, termasuk didalamnya apakah itu kegagalannya atau keberhasilannya dan kesuksesannya, akan memberikan penguatan pada peserta didik.  Perolehan (acquisition) yang merupakan hasil dari perilaku peserta didik diperoleh dari penguatan “vicarious” model (Hergenhahn, 1982).  Selanjutnya Bandura dalam teorinya menyatakan bahwa sebuah model dapat berupa apa saja yang bisa dipakai untuk menyampaikan informasi, seperti orang, film, TV, demonstrasi, gambar atau instruksi (Bandura, 1977).

Perpaduan antara penguasaan ilmu pengetahuan oleh dosen dan penguasaan seni mengelola usaha oleh praktisi wirausahawan akan menjadikan sajian pembelajaran yang menarik bagi mahasiswa untuk mempelajarinya. Model desain pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pemodelan para wirausahawan yang sukses mengelola usaha, yang disajikan dalam susunan materi dan strategi perkuliahan, dan menghadirkan wirausahawan melalui media film pembelajaran, diharapkan bisa menjadi solusi sebagai upaya memperbaiki  proses pembelajaran PKWu di PT. Media film pembelajaran dipakai untuk mengatasi kendala waktu dan biaya untuk mendatangkan wirausahawan sukses secara rutin.  Selain hal tersebut, para model wirausahawan sukses akan memudahkan proses alih pengalaman, pengembangan teori kewirausahaan, dan bisa mendorong tumbuhnya jiwa wirausaha dan motivasi untuk berwirausaha pada para mahasiswa.

Berpijak dari beberapa pendapat dan permasalahan di atas, dan mengacu pada konsep dasar kewirausahaan yang dikembangkan Suryana (2003) serta konsep pembelajaran Bandura (1977), maka  pemodelan wirausahawan sukses dipilih untuk mengawali (the first step) upaya penumbuhan jiwa wirausaha pada para mahasiswa dengan melalui proses meniru dan menduplikasi model yang dicontohkan.  Dalam proses pembelajaran PKwu lanjutan nantinya, diharapkan akan berproses terus ke tahap pengembangan dan kemudian ke tahap kewirausahaan ketika mereka sudah terjun ke masyarakat nantinya.

Dari konsep pemikiran tersebut di atas, melatarbelakangi perlunya penelitian tentang pendidikan kewirausahaan di PT dan disusunnya model desain pembelajaran PKwu dalam rangka untuk menumbuhkan jiwa wirausaha para mahasiswa serta mengembangkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship education) di PT.  Dari produk pengembangan desain pembelajaran PKwu dengan pemodelan wirausahawan UKM sukses ini diharapkan akan menumbuhkan jiwa wirausaha mahasiswa di PT dan akan berkembang melalui program-program yang diciptakan di universitas   Contoh model para wirausahawan yang telah sukses mengelola dan menjalankan UKM, digunakan sebagai media untuk memberikan rangsangan, motivasi, dan inspirasi kepada para mahasiswa sehingga diharapkan akan tumbuh keinginan untuk berwirausaha.  UKM dipilih karena cocok dipakai sebagai lahan usaha para wirausahawan pemula.  Oleh sebab itu, upaya pengembangan suatu model desain pembelajaran pendidikan kewirausahaan dengan mendasarkan pada hasil eksplorasi lapangan terhadap peta perjalanan bisnis wirausaha UKM sukses  yang dimulai sejak ”getting started” sampai mencapai sukses, dan kunci sukses bisnisnya, menarik untuk dilakukan. 

Penelitian ini dirancang dan diabdikan untuk memulai usaha merintis dan mengembangkan model desain pembelajaran pendidikan kewirausahaan (PKwu) dengan pemodelan wirausaha UKM sukses yang ingin dicontoh dan dikembangkan.  Permasalahan dalam penelitian pengembangan ini adalah; tujuan  pendidikan dan pembelajaran  kewirausahaan di Perguruan Tinggi  (kompetensi dasar) belum tercapai secara efektif.  Ketidakefektifan tersebut disebabkan oleh: (1) strategi pembelajaran banyak menggunakan pendekatan ceramah dan teks book oriented, (2)  silabus menjadi satu-satunya  pedoman pembelajaran yang dipakai dosen, dan kurang disosialisasikan dan dibagikan kepada mahasiswa, (3) evaluasi pembelajaran tidak terencana dengan baik, (4) kurangnya sarana media pembelajaran, (5) terputusnya mata rantai pengetahuan kewirausahaan di bangku kuliah dengan realita objektif di lapangan.  Alternatif pemecahannya adalah mengetahui bagaimana: (1) pelaksanaan program pembelajaran PKwu di perguruan tinggi, (2) pemodelan wirausahawan UKM yang sukses dalam mengelola usaha, (3) draf awal/prototipe desain pembelajaran PKwu di PT, dengan WU UKM sukses sebagai contoh pemodelan,  (4) validitas teoretik prototipe desain pembelajaran PKwu di PT, dengan pemodelan WU UKM sukses yang disusun, (5) rekonstruksi prototipe desain pembelajaran PKWu dengan pemodelan WU UKM sukses, (6)  keefektifan desain pembelajaran PKwu, setelah diuji coba secara terbatas, (7) model empirik desain pembelajaran PKwu dengan pemodelan WU UKM sukses yang dapat disarankan.

Tujuan pengembangan ini adalah;(1) mendeskripsikan pelaksanaan program pembelajaran pendidikan kewirausahaan di Perguruan Tinggi, (2) mendeskripsikan  model wirausahawan UKM sukses dalam mengelola usaha, (3) tersusunnya draf awal/prototipe desain pembelajaran PKwu di PT dengan  pemodelan WU UKM sukses, (4) validasi teoretik prototipe desain pembelajaran  PKwu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses, (5) rekonstruksi prototipe desain pembelajaran PKWu dengan pemodelan WU UKM sukses. (6) melakukan uji coba prototipe desain pembelajaran PKWu dengan pemodelan WU UKM sukses. (7) revisi prototipe untuk tersusunnya model empirik desain pembelajaran PKwu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses berdasarkan hasil ujicoba, yang dapat disarankan bagi upaya pengembangan PKwu dan UKM di masa depan. Pentingnya Pengembangan model ini adalah, bahwa untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha tidak bisa hanya dengan jangka waktu pendek yaitu hanya dengan melalui perkuliahan satu atau dua semester saja, namun merupakan suatu proses psikologis dan sosiologis jangka panjang dan dilakukan secara terus menerus melalui kegiatan pendidikan dan pengembangan yang berkesinambungan (Priyanto, Sony, & Heru, 2001: 420; Galloway & Brown, 2002: 2).  Demikian juga untuk menumbuhkan jiwa wirausaha tidak bisa hanya dengan memberikan teori-teori dan menjauhkan dari dunia wirausaha secara nyata, tetapi harus menggabungkan keduanya sebagai bentuk visualisasi kewirausahaan sebagai seni dan kewirausahaan sebagai ilmu pengetahuan. Dengan demikian kontribusi pengembangan desain pembelajaran PKWu dengan pemodelan WU UKM sukses ini adalah: (1) bagi dosen/ pembelajar adalah, pemanfaatan  model praktisi wirausahawan sukses dapat berperan untuk menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan seni kewirausahaan.(2) bagi dosen/pembelajar dan baik mahasiswa/pebelajar, model desain pembelajaran PKWu yang dihasilkan, diharapkan dapat membantu  tercapainya sasaran pembelajaran kewirausahaan yang ditentukan, yaitu untuk mendorong tumbuhnya jiwa dan motivasi berwirausaha sebagai aktivitas awal ( ”the first step”) bagi mahasiswa yang berminat menjadi wirausahawan baru yang handal, (3) peran praktisi wirausahawan sukses dapat membantu terjadinya proses alih pengalaman dan mendekatkan pada dunia wirausaha secara nyata pada para mahasiswa, sekaligus berperan sebagai inspirator dan motivator untuk menumbuhkan jiwa dan minat untuk berwirausaha, (3) peran praktisi model wirausahawan sukses dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu kewirausahaan, (4) untuk lembaga perguruan tinggi pada umumnya dan UNS khususnya, model pengembangan desain pembelajaran PKWu ini diharapkan dapat membantu memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran dan pengembangan budaya kewirausahaan di Perguruan Tinggi.

METODE

Model pengembangan yang dipilih untuk mengembangkan desain pembelajaran PKwu di PT ini adalah mengadopsi dan memodifikasi model desain pembelajaran Kemp, Morrison & Ross (1994) disesuaikan dengan teori pembelajaran sosial Bandura (modeling), 1977. Hasil tahap pertama dari penelitian eksploratif ini adalah berupa abstraksi draf awal prototipe desain  pembelajaran.PKwu di Perguruan Tinggi.  Pada tahap kedua merupakan studi pengembangan, berupaya untuk mengembangkan dan menyusun model koseptual menjadi konstruksi draft awal prototipe desain pembelajaran Pkwu di perguruan tinggi yang merupakan hasil atau produk pengembangan. Selanjutnya dilakukan validasi teoretik terhadap konstruksi draft awal prototipe desain pembelajaran  melalui diskusi, justifikasi, dan konsultasi dengan ahli (expert judgement) untuk mendapatkan program pembelajaran yang diinginkan.  Tujuan yang dicapai pada tahap pengembangan, adalah merekonstruksi draf awal / prototipe desain pembelajaran PKwu berdasarkan hasil validasi teoretik menjadi temuan baru draf kedua dari desain/model pembelajaran PKwu yang siap akan diuji coba secara terbatas dalam satu kelas yang dipilih sebagai sampel ujicoba. Ujicoba terbatas terhadap mahasiswa yang mengambil mata kuliah kewirausahaan merupakan tahap ketiga  atau akhir dari proses pengembangan model pembelajaran PKwu dalam penelitian ini.  Pendekatan ujicoba terbatas ini pada dasarnya dapat dipandang sebagai studi eksperimen semu dengan pendekatan “single group pre-post test design” atau desain penelitian kelompok tunggal dengan tes pra dan pasca pembelajaran.  Ujicoba terbatas dilakukan untuk validasi empirik.  Pre-test dipakai untuk mengetahui bekal awal belajar yang dikuasai dari peserta didik, sedangkan post-test dipakai untuk mengetahui hasil proses pembelajaran PKwu menggunakan program yang baru saja dikembangkan.  Dalam ujicoba terbatas ini juga dikaji efektifitas dan keterlaksanaan program menurut alokasi waktu yang disediakan jurusan berkaitan dengan  PKwu di perguruan tinggi tempat ujicoba dilaksanakan.  Kemajuan proses pembelajaran diperoleh dari perbandingan prestasi kelompok ujicoba dalam mengerjakan pre dan post-test.  Efektifitas desain konseptual pembelajaran diukur dengan menggunakan uji t  (t dependent sample). Hasil ujicoba terbatas yang sekaligus merupakan validasi empirik dari model pembelajaran PKwu merupakan produk pengembangan model pembelajaran PKwu yang dihasilkan dari penelitian ini. Dalam setiap tahap akan selalu dilakukan konsultasi dan diskusi dengan pembimbing dan praktisi PKWu.   Keseluruhan proses penelitian dapat diilustrasikan dalam bentuk kerangka pemikiran yang dituangkan dalam Gambar 1

Ujicoba terutama difokuskan untuk mengkaji tingkat kelayakan program pembelajaran yang dirancang, keterlaksanaan, keterbacaan materi ajar, kendala-kendala penerapaannya di lapangan, dan kesesuaian paparan model dengan tingkat ketercapaian sasaran pembelajaran.  Dari ujicoba ini diharapkan dapat diperoleh berbagai masukan empiris untuk perbaikan dan modifikasi draf  desain pembelajaran.  Pada tahap ini, menggunakan satu kelompok mahasiswa (single group), pendekatan yang dipilih dapat dikatakan eksperimen semu, dengan pendekatan yang dikenal sebagai “single group pre-posttest design”.  Pada akhir ujicoba analisis kemajuan belajar dapat dipakai sebagai salah satu ukuran efektivitas program pembelajaran PKWu yang dihasilkan dari pengembangan dalam penelitian ini.


TAHAP III

Gambar 1.      Proses Pengembangan Desain Pembelajaran Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi dengan Pemodelan WU UKM sukses.

Subjek ujicoba dalam penelitian ini adalah mahasiswa strata satu program studi Pendidik Sastra Indonesiadan Daerah, FKIP UNS, yang mengambil mata kuliah kewirausahaan.  Sampel kelas diambil secara purposif karena hanya terdapat satu kelas atau satu rombongan belajar yang sudah terbentuk secara administratif dalam pola pendaftaran ulang mahasiswa pada tiap semester. Sedangkan pemilihan UNS sebagai tempat uji coba dengan alasan, (1) UNS merupakan salah satu dari dua PT (selain ITS) yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai pilot projek pengembangan budaya kewirausahaan (RED BIC, 1994), dan telah berpengalaman melaksanakan kuliah umum (MKU) wajib kewirausahaan bagi mahasiswa sejak 1995, (2) peneliti sebagai salah satu pengampu mata kuliah Kwu di UNS, sehingga memudahan untuk melakukan ujicoba.

Jenis data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif.  Data yang terkumpul dalam penelitian tahap pertama, dari hasil studi eksplorasi terhadap pelaksanaan pendidikan kewirausahaan di beberapa PT dan terhadap pengelolaan beberapa UKM sukses, berupa catatan lapangan, hasil observasi dan wawancara mendalam serta studi dokumentasi dipandang sebagai jenis data kualitatif.  Sedangkan data yang terkumpul dalam penelitian tahap kedua yaitu tahap pengembangan dengan melalui studi ekperimen semu atau ujicoba terhadap kelompok belajar, dipandang sebagai data kuantitatif.  Data ini digunakan sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan model program pembelajaran pendidikan kewirausahaan yang dihasilkan dalam penelitian ini.  Di samping itu, dari data pretest dan posttest tentang nilai-nilai dan perilaku terhadap para mahasiswa kelompok belajar, akan  dapat diketahui tumbuhnya jiwa wirausaha  Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

(1)   data terkumpul, dari penelitian eksploratif, dianalisis secara deskriptif dengan memanfaatkan analisis kualitatif, (2) data terkumpul dalam penelitian tahap pengembangan, khususnya saat ujicoba terbatas yang berkaitan dengan mengkaji kemajuan belajar peserta didik, dianalisis dengan pendekatan single group pre-post test design yaitu dengan membandingkan hasil pre-test dan post test dan dianalisis secara statistik dengan rumus t-setali (atau rumus t dependent samples, Blommers & Forsyth, 1977:350).  dengan rumus sebagai berikut:

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil studi eksploratif (tahapI): Karakteristik dari tiga model wirausahawan UKM sukses dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) semangat juang yang tinggi, (2) mandiri, (3) ulet dan pekerja keras, (4) kreatif dan inovatif, (5) rasa percaya diri yang tinggi, (6) berani mengambil resiko yang sudah diperhitungkan, (7) memiliki reaksi positif terhadap tantangan yang dihadapi, (8) memiliki keuletan dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuan, (9) memiliki pemahaman terhadap pasar, (10) memegang teguh kepercayaan dan kejujuran, (11) tidak mudah putus asa, (12) memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang produk yang dihasilkannya, (13) memiliki motivasi yang kuat untuk berprestasi, (14) banyak akal, (15) terbuka untuk menerima kritik, (16) mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik dalam mengelola karyawan, (17) pembawa perubahan di lingkungannya.

Selain faktor-faktor internal berupa karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh wirausahawan UKM sukses, faktor-faktor eksternal yang ikut menyumbang atau mendukung tumbuhnya keinginan/motivasi untuk menjadi  wirausahawan sukses adalah: (1) Dukungan dari orang tua; pendidikan orang tua dalam keluarga yang menanamkan pentingnya kedisiplinan dan kemandirian sejak kecil. Kesadaran yang tinggi dari orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang berhasil. (2) Keluarga; keluarga yang ikut berpartisipasi secara langsung dalam merealisasi impian dan membantu dalam proses pembelajaran untuk menjadi wirausahawan yang sukses. (3) Jaringan kelompok bermain atau bekerja (net working), ikut menyumbangkan dan mengembangkan ide serta mengembangkan usaha; (4) Model yang ingin dicontoh, model tokoh wirausahawan yang sukses telah memotivasi untuk meniru menjadi wirausahawan yang sukses pula. dan (5) Faktor ekonomi, sosial, dan politik lingkungan; faktor latar belakang ekonomi dibagi menjadi dua yaitu (a) latar belakang ekonomi keluarga yang kekurangan/pas-pasan ikut mendorong semangat untuk berjuang memperbaiki nasib dan menjadi orang sukses, (b) keadaan ekonomi lingkungan dan ekonomi negara yang sulit telah mendorong berkembangnya UKM dengan kesempatan mengambil peluang pasar yang sedang lesu karena pengaruh krisis moneter, untuk meraih peluang pasar luar negeri.  Faktor latar belakang kehidupan sosial yang dianggap kurang oleh masyarakat, mendorong untuk meningkatkan status sosial yang lebih tinggi dimata masyarakat.  Faktor situasi politik yang stabil, aman, akan mendukung tumbuh dan berkembangnya motivasi untuk berwirausaha.

Kompetensi pokok yang harus dimiliki oleh wirausahawan UKM sukses  dapat disimpulkan sebagai berikut;1) kompetensi personal, merupakan karakteristik pribadi sukses, (2) kompetensi teknik, memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang produk yang dihasilkan, (3) kompetensi pemasaran, menguasai pasar dimana produk akan diterima dengan baik oleh konsumen, (4) kompetensi keuangan, dapat mengelola uang dengan secara efektif dan efisien, (5) kompetensi hubungan manusiawi (Human relation), dapat menjalin hubungan secara manusiawi dengan para pegawai dan relasi. Kiat-kiat sukses dari hasil eksplorasi lapangan terhadap para wirausahawan UKM sukses, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) mandiri tidak mau tergantung pada orang atau pihak lain, (2) kerja keras dengan fisik maupun mental, (3) semangat juang yang tinggi dan tidak gampang menyerah, (4) komitmen dan konsisten terhadap tekad dan janji pada diri sendiri, (5) sangat percaya diri dan tidak gengsi, (6) untuk bisa menghargai orang lain, hargailah diri sendiri dahulu, (7) memanfaatkan waktu dengan baik, tidak hanya untuk berkhayal dan bermimpi tapi raihlah mimpi itu, (8) menanamkan keinginan atau mimpi untuk sukses sejak kecil dan berusaha keras untuk mencapainya, (9) buka mata dan telinga untuk menangkap, memanfaatkan atau menciptakan peluang, (10) mundur dan menghindar jikalau perlu, lari dan melompat jikalau harus (mengatur strategi dengan baik), (11) tentukan target yang harus dicapai, (12) posisikan usaha anda untuk menjadi bagian yang penting dari usaha-usaha lain walau sekecil apapun, (13) memegang kepercayaan dan kejujuran, (14) kreatif  dan inovatif, (15) profesional, (16) mampu untuk menghitung resiko dengan cermat (“risk orderer” bukan “risk taker”), (17) mampu untuk berani mengambil keputusan, (18) kalau ada kemauan pasti ada jalan, (19) membangun dan menjaga relationship untuk memperkuat networking, (20) cari, kumpulkan dan kuasai informasi dengan lebih awal, (21) menjalin hubungan kerjasama secara kekeluargaan yang akrab dengan para pegawai, (22) tetap menjaga kualitas produk, (23) jangan berhenti berkreasi, (24) menjaga ketepatan waktu dalam memenuhi pesanan konsumen, (25) jangan malu berwirausaha walau kecil.

Skill yang dibutuhkan untuk tetap bisa survive adalah, keterampilan untuk bisa menangkap dan memanfaatkan atau menciptakan peluang; keterampilan untuk membangun dan menjaga relationship untuk memperkuat networking;  keterampilan  mengatur strategi yaitu seperti mundur sementara dan menghindar dari halangan jika diperlukan tapi juga melompat dan lari jika harus; keterampilan untuk menghitung resiko sekecil apapun (risk orderer) Seorang wirausahawan disebut sebagai “ risk orderer” apabila dia akan selalu memperhitungkan resiko sekecil apapun, dalam menyusun setiap rencana.  Karena sudah melalui perhitungan yang cermat maka akan berani untuk mengambil keputusan, berbeda dengan “risk taker” yang cenderung untuk berspekulasi tanpa perhitungan secara cermat.  Keberanian untuk mengambil resiko untuk meraih peluang sukses yang sudah diperhitungkan, telah diambil oleh para wirausahawan model dengan keberaniannya meninggalkan pekerjaannya yang sudah mapan untuk mencoba peruntungan baru yang lebih menjanjikan.

Berdasarkan hasil kajian dan analisis berbagai kurikulum di beberapa PT dan kebutuhan di lapangan seperti yang dialami oleh para wirausahawan sukses, dicoba  disusun kurikulum Pkwu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses Kurikulum pendidikan kewirausahaan pada tingkat dasar (perkuliahan tahap awal) yang disajikan dengan waktu ekuivalen 2 atau 3 SKS, yaitu:

(1)Tes evaluasi diri berupa tes kecenderungan mahasiswa untuk berwirausaha. Tes ini diberikan pada tatap muka pertama dimana diasumsikan mahasiswa belum mengenal karakteristik wirausahawan. Selain itu untuk mengetahui bekal awal yang dipunyai mahasiswa dalam materi kewirausahaan;

(2) Pemahaman tentang pentingnya kewirausahaan dan permasalahan-permasalahan yang menghambat tumbuhkembangnya jiwa dan budaya wirausaha di Indonesia, serta menjelaskan pola pengembangan budaya KWU di Perguruan Tinggi;

(3) Pemahaman konsep entrepreneur, entrepreneurship dan karakteristik entrepreneur serta kompetensi yang harus dimiliki. Materi ini bersumber dari produk media pembelajaran yaitu, buku teks, slide dan film succses story dan buku literatur;

(4) Memunculkan dan mengembangkan ide bisnis yang potensial, menilai dan evaluasi peluangnya  serta menganalisis peluang pasar. Materi ini adalah untuk membelajarkan para mahasiswa di dalam mengembangkan ide-ide dan mengetahui peluang, menangkap dan memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan pasar;

(5) Pemahaman tentang etika bisnis dalam berwirausaha dan permasalahannya;

(6) Pemahaman tentang berbagai tipe bisnis yang mungkin bisa dilakukan pada tahap awal oleh wirausahawan baru;

(7) Pemahaman tentang pengelolaan bisnis UKM dilapangan;

(8) Mengidentifikasi permasalahan dan tantangan bisnis serta bagaimana mengelola krisis agar tetap bertahan;

(9) Melakukan Studi Kelayakan Usaha dan menyusun laporan

Hasil penelitian tahap ke II (tahap pengembangan);temuan produk penelitian ini berupa draf. Awal/prototipe desain pembelajaran PKwu dan refleksi proses pengembangannya di perguruan tinggi (PT) sebagai suatu sistem.  Refleksi pengembangannya untuk memposisikan atau menentukan dimana posisi desain pembelajaran PKwu (kuliah KWu I) yang dikembangkan oleh peneliti dalam diagram/skema model pengembangan PKwu di PT yang dikembangkan oleh Dikti (gambar 3),  dan gambaran proses pembelajaran PKwu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses, yang didesain di sini, dapat ditunjukkan dalam Gambar 4.

 

 

 


Gambar 3. Konsep Model Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi dengan pemodelan WU UKM sukses.

 

Konstruksi Prototipe Desain Pembelajaran PKWu di PT,merupakan Draf.awal dari desain pembelajaran, yang disusun dalam bentuk satu set yang terdiri atas (1) Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan pada Tingkat Dasar yang disampaikan dengan ekuivalen 2 atau 3 SKS, yang terdiri dari (a) Karakteristik Mata Kuliah; (b) Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian/Deskriptor; (c) Pokok Bahasan/Rincian Perkuliahan; (2) Silabus; (3) Strategi pembelajaran, yang terdiri dari  contoh Petunjuk Diskusi dan Mengerjakan Tugas; (4) Evaluasi pembelajaran, yang terdiri dari; (a) Pre-Test dan Post-Test Kecenderungan Berwirausaha; (b) Lembar jawaban tes kecenderungan berwirauaha; (c) Prosedur Evaluasi yang terdiri dari (d) Contoh Kisi-kisi Strategi Asesmen, (e) Contoh Item Spec (Spesifikasi Butir Soal) dan kloningnya, (f) Contoh Pedoman Penyekoran Tugas Kelompok, (g) Contoh Lembar Asesmen/Penilaian Tugas, (h) Contoh Penyekoran Tugas Mandiri Laporan Observasi Lapangan dan sekaligus bisa dipakai untuk Penyekoran Tugas Kelompok; (5) Media pembelajaran dalam bentuk slide untuk program power point atau transparansi dengan overhead projector (OHP), VCD Success Story Wirausahawan UKM, dan buku teks bahan ajar.

 

Motivasi

Dorongan untuk meniru perilaku positif WU sukses

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 4:  Proses Pembelajaran PKwu di PT dengan Pemodelan WU UKM sukses.

Hasil validasi teoretik terhadap draf awal/prototipe, dengan teman sejawat dan ahli menghasilkan tanggapan/masukan sebagai bahan untuk merekonstruksi desain pembelajaran PKWu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses. Hasil Rekonstruksi Prototipe Desain Pembelajaran yang telah dibuat, kemudian disusun dalam bentuk satu set Rekonstruksi Desain Pembelajaran Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi, dengan pemodelan WU UKM sukses, yang siap di uji coba, dengan tambahan sebagai berikut; sebagai ganti materi teori motivasi, pada setiap lembar tugas dan juga bahan ajar sengaja disisipkan kata-kata mutiara yang dibuat oleh para wirausahawan maupun tokoh sukses. Untuk materi kepemimpinan, langsung dipraktekkan dalam bentuk tugas kelompok dimana para anggota akan berganti peran menjadi pemimpin kelompok.  Pada setiap tugas kelompok yang diberikan dengan memberikan penilaian pada aspek rasa percaya diri untuk berani tampil/memimpin, kerjasama dalam kelompok, keterbukaan dalam menerima kritik dan saran, inisiatif, dan kemampuan untuk mengemukakan ide dan mempertahankan pendapat. Pembuatan media film pembelajaran ”success story”, skenario diperbaiki dengan mengurangi satu stage yaitu gambaran kehidupan keluarga sewaktu kecil hingga remaja, dan memperpendek durasi film menjadi 30 menit.  Media pembelajaran berupa rancangan buku teks bahan ajar, disempurnakan dengan menambah daftar isi, tujuan pada setiap bab, ringkasan, dan daftar pustaka.  Diberikan tambahan ”success story” WU UKM model dan tambahan WU UKM sukses lain pada setiap bab yang sesuai.

Hasil uji coba dengan menggunakan pre-tes sebelum proses pembelajaran berlangsung, menunjukkan tingkat kecenderungan mahasiswa untuk berwirausaha pada awal sebelum mengikuti kuliah, rata-rata tinggi.  Hal ini ditunjukkan dengan skor perolehan, dua orang mempunyai kecenderungan untuk berwirausaha sangat tinggi, enam belas orang (64%)cenderung tinggi dan tujuh orang (28%) mempunyai kecenderungan sedang.  Peneliti tidak memperhatikan, sepuluh mahasiswa diantaranya adalah sudah mengulang mata kuliah, faktor latar belakang tempat tinggal (Solo)sebagai kota dagang dan banyak sentra industri UKM, serta latar belakang keluarga,  berpengaruh terhadap tingkat kecenderungan berwirausaha.  Hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut.

Untuk pelaksanaan uji coba media success story yang akan ditayangkan di depan kelas, peneliti kesulitan untuk memperoleh fasilitas berupa LCD untuk penayangan, karena keterbatasan sarana.  Jalan keluarnya, penayangan film Succes story dilakukan di luar kelas dengan menggunakan laptop dihadapan sekelompok mahasiswa.  Selain hal tersebut, peneliti menyiapkan overhead transparansi untuk memaparkan materi pembelajaran, buku-buku serta kliping success story wirausahawan yang dihasilkan mahasiswa sebagai bahan diskusi.

Pelaksanaan kegiatan studi lapangan dengan melakukan kegiatan observasi ke beberapa UKM sukses, mengalami berbagai kendala.  Sehingga tugas diberikan secara individu, dengan menyiapkan alat penilaian berupa format penilaian tugas observasi lapangan berkelompok dan individu. Hasil uji coba asesmen/penilaian tugas-tugas  kelompok dengan menggunakan model penilaian teman sejawat (peer assesment) menunjukkan gejala keseriusan dalam mengerjakan tugas, karena antar sesama teman anggota kelompok saling menilai. Dari hasil pre dan pos-tes kecenderungan berwirausaha dari para mahasiswa, dengan menggunakan rumus t setali (atau rumus t dependent samples), harga ttabel untuk taraf signifikansi 0,01 dan derajat kebebasan 24 .  Dapat disimpulkan bahwa H0 penelitian ini ditolak pada taraf signifikasi 0,01.  Ini artinya, data penelitian menunjukkan bahwa hasil postes signifikan lebih tinggi dari hasil pretes.  Dengan demikian dari hasil uji t dengan  pre-post test design menunjukkan adanya peningkatan kemauan belajar kewirausahaan yang signifikan yang ditunjukkan dengan adanya kecenderungan berwirausaha mahasiswa lebih tinggi dibandingkan pada saat sebelum mengikuti kuliah atau belajar kewirausahaan di Universitas.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

  1. Untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha memerlukan waktu yang cukup panjang, oleh karena itu perlu diperkenalkan, dimotivasi, dan ditanamkan sejak dini, yaitu dimulai sejak pendidikan yang ditanamkan dalam keluarga, yang menekankan tentang pentingnya kedisiplinan dan kemandiran. Pengenalan kisah-kisah perjalanan meraih sukses ( succes story) dari para wirausahawan, bisa dilakukan  kepada para siswa sejak tingkat sekolah dasar bahkan taman-kanak-kanak. Dari peran model yang menjadi tokoh cerita, diharapkan agar mereka tumbuh keinginan, impian dan motivasi untuk menjadi wirausaha sukses seperti tokoh-tokoh yang telah dibacanya, ketika sudah dewasa nanti. Kuatnya keinginan untuk sukses atau  untuk berprestasi (need for achievement) akan menjadi ”bahan bakar” yang akan mendorong dengan mudah kearah realisasi impiannya.
  2. Kurikulum PKwu sebagai produk pengembangan dalam penelitian ini adalah, kurikulum sebagai  garis besar materi dari suatu bidang pelajaran yang dipilih untuk dijadikan objek belajar, sudah layak dipakai.. Materi ajar sudah tersusun secara sistematis dan sesuai dengan tujuan umum dari pendidikan kewirausahaan di PT yaitu; untuk memberikan pengetahuan kewirausahaan dan pengalihan pengalaman berwirausaha, serta mendorong tumbuhnya motivasi berwirausaha sebagai aktivitas awal bagi mahasiswa yang berminat menjadi wirausaha baru yang handal.
  3. Karakteristik mata kuliah yang mengidentifikasi nama, kode, sks, alokasi semester, Jurusan/Prodi tempat mata kuliah diajarkan, jumlah kapasitas pebelajar, dan standar kompetensi, sudah sesuai dan layak dipakai; penambahan sks dari dua menjadi tiga akan lebih memperluas ruang gerak dan memudahkan bagi pembelajar maupun pebelajar untuk berinovasi dalam rangka pencapaian standar kompetensi pembelajaran yang efektif.
  4. Kompetensi dasar dan indikator pencapaian dari tiap materi pokok pembelajaran sebagai alat ukur, sudah sesuai dan layak dipakai.
  5. Pokok bahasan dan rincian materi perkuliahan, yang sudah direvisi berdasarkan saran-saran yang masuk dan hasil uji coba sudah layak dipakai, namun tidak menutup kemungkinan untuk diperbaiki dan disempurnakan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik UKM bersifat dinamis.
  6. Silabus atau garis besar program pembelajaran mingguan yang berisi, deskripsi mata kuliah, standar kompetensi dan kompetensi dasar yang angin dicapai, indikator pencapaian, pokok bahasan/rincian perkuliahan, strategi perkuliahan serta evaluasi pembelajaran, perkiraan waktu dan sumber bacaan, sudah layak dipakai.
  7. Petunjuk diskusi dan mengerjakan tugas, sudah jelas dan komunikatif mengingat sebelum diberikan tugas tersebut, mahasiswa sudah mempelajari materi tugas, baik yang dibaca dalam literatur yang diwajibkan maupun melalui media pembelajaran yang disampaikan pembelajar.  Kata-kata mutiara yang dituliskan pada setiap lembar tugas dipakai sebagai alat untuk memotivasi pebelajar, yaitu selain untuk serius mengerjakan tugas juga dipakai sebagai alat untuk retensi ingatan terhadap para wirausahawan sukses.
  8. Alat evaluasi, berupa Pre-test dipakai sebagai langkah awal untuk mengukur bekal awal yang dimiliki oleh para mahasiswa sebagai pebelajar, tentang potensi yang dimilikinya untuk berwirausaha, sedangan post-test dipakai sebagai alat ukur untuk mengetahui perkembangan kemajuan pembelajaran kewirausahaan yang telah dicapai oleh pebelajar.  Hasil analisis uji coba (dengan uji t) menunjukkan perbandingan yang signifikan antara pre-test dan post-test.  Dengan demikian, produk pengembangan desain pembelajaran PKwu dengan pemodelan WU UKM sukses sangat layak untuk dipakai, mengingat adanya peningkatan minat mahasiswa menjadi wirausaha.
  9. Contoh-contoh format utuk prosedur evaluasi pembelajaran Kwu, berupa contoh kisi-kisi strategi asesmen, contoh spesifikasi butir soal (item specification), contoh pedoman penyekoran tugas, contoh lembar asesmen tugas, dan contoh pedoman penyekoran tugas mandiri dan tugas kelompok, secara lengkap dan jelas diberikan sehingga memudahkan untuk menjadi panduan evaluasi baik yang dilakukan oleh pembelajar maupun pebelajar sendiri melalui peer assesment.
  10. Media pembelajaran yang berbentuk film pembelajaran yang berisi “success story” WU UKM, slide bahan ajar dengan program power point maupun dengan media overhead transparency dan bahan ajar atau rancangan buku teks bahan ajar Kwu, disiapkan untuk mengakomodasi pebelajar dengan modal potensi penglihatan, pendengaran dan daya tangkap yang berbeda-beda.  Selain media tersebut, untuk lebih memudahkan komunikasi antara pembelajar dan pebelajar dalam menyampaikan informasi dan permasalahan yang dialami menyangkut kegiatan pembelajaran, juga digunakan media komunikasi/pesan singkat (SMS) melalui telepon genggam.  Media SMS ini selain murah, juga efektif, serta disenangi oleh mahasiswa/pebelajar.

Saran-saran:

A. 1. Oleh karena pada setiap perguruan tinggi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda baik in-put pebelajar dan pembelajar, sarana dan pra sarana pembelajaran, khususnya dalam penggunaan media pembelajaran, maka  pemanfaatan desain pembelajaran PKwu di PT dengan pemodelan WU UKM sukses ini disarankan untuk PT yang mempunyai karakteristik yang sama dengan objek uji coba.

2. Jumlah sks yang memadai, akan lebih memperluas ruang gerak dan memudahkan bagi pembelajar maupun pebelajar untuk berinovasi dalam strategi belajar dan mengajar. Dengan demikian akan menunjang pencapaian standar kompetensi pembelajaran yang ditentukan. Dengan model produk desain pembelajaran PKwu ini,  proses pembelajaran tidak hanya menekankan pada ”learning what”  tetapi juga ”learning who with” dan ”learning how to”.

3. Apabila kewirausahaan merupakan mata kuliah umum wajib, untuk menunjang kelancaran proses pengembangan kewirausahaan di PT perlu pengaturan jadwal kuliah yang ditawarkan pada tiap semester baik di semester genap maupun ganjil.  Alternatif lain mengatur jadwal secara berselang-seling pada tiap prodi dalam satu jurusan/fakultas, agar bagi mahasiswa yang ingin mengulang perkuliahan tidak harus menunggu waktu satu tahun, tetapi dapat mengambil  perkuliahan pada Prodi lain dalam satu jurusan/fakultas yang sama (cross section learning).

4.  Untuk menunjang pelaksanaan ”cross section learning” tersebut, perlu acuan silabus yang  baku dengan perspektif multidisipliner. Keberagaman pengetahuan yang dimiliki para mahasiswa dari berbagai bidang studi justru akan menciptakan sinergi yang kuat dan lengkap untuk membuat dan menyusun  perencanan bisnis (business plan) yang inovatif

5. Apabila kewirausahaan merupakan mata kuliah umum wajib,  pelaksanaan ujian semester dilakukan secara serempak dengan soal standar, maka pembuatan kisi-kisi strategi asesmen kewirausahaan harus dibuat terlebih dahulu oleh tim pembuat soal.  Kisi-kisi berupa matriks yang berisi tentang spesifikasi instrumen yang akan dibuat.  Kisi-kisi strategi asesmen merupakan acuan bagi penyusunan butir soal sehingga siapapun yang akan membuat butir soal akan menghasilkan isi dan tingkat kesulitan yang relatif sama

B. Saran Pemanfaatan, Diseminasi, dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut

  1. Dalam usahanya untuk mensukseskan Program Pengembangkan Budaya Kewirausahaan di Indonesia, dimana membudayakan adalah sesuatu yang memerlukan waktu panjang dalam hal ini berkaitan dengan merubah mind set”, maka  program penumbuhan jiwa wirausaha hendaknya dilakukan sejak usia dini yaitu dari jalur pendidikan formal bisa dimulai sejak bangku SD dengan memberikan bahan-bahan bacaan tentang kisah  perjuangan wirausahawan sukses dengan menekankan pada pengenalan ciri-ciri atau karakteristik perilaku positif yang dimiliki wirausahawan sukses.
  2. Mengingat tujuan Kuliah Kewirausahaan adalah untuk memberikan bekal awal pengetahuan kewirausahaan dan pengalihan pengalaman berwirausaha, serta untuk mendorong tumbuhnya motivasi berwirausaha, sebagai aktivitas awal bagi mahasiswa yang berminat menjadi wirausahawan baru yang handal (Dikti, 1997), maka perlu fondasi pengetahuan dan pemahaman yang kuat, dengan metoda pembelajaran yang terencana, terarah dan terstruktur dengan baik agar dapat melanjutkan atau termotivasi untuk mengikuti program-program kegiatan lanjutan.
  3. Dalam rangka untuk membentuk Sarjana Plus yang profesional, mandiri dan berjiwa wirausaha perlu dikembangkan perkuliahan lanjutan yang lebih menekankan pada management skill, penguasaan teknologi informasi dan pemahaman tentang seluk beluk pendirian badan usaha, yang nantinya akan berguna sebagai bekal untuk melaksanakan Kuliah Kerja Usaha, yang dilanjutkan menjadi wirausaha baru dan menghasilkan penelitian kewirausahaan. 
  4. Oleh karena Kewirausahaan merupakan MKU di UNS, maka perlu pengaturan jadwal kuliah yang ditawarkan pada tiap semester baik di semester genap maupun ganjil. Alternatif lain mengatur jadwal secara berselang-seling pada tiap BKK atau prodi (ada yang ditawarkan pada semester genap pada BKK/prodi X dan semester ganjil pada BKK/prodi Y) dalam satu program studi /jurusan/fakultas, agar bagi mahasiswa yang ingin mengulang perkuliahan tidak harus menunggu waktu satu tahun, tetapi dapat mengambil  perkuliahan yang keluar pada BKK/ Prodi lain dalam satu jurusan/fakultas yang sama.
  5. e.       Perlu koordinasi yang baik antar unit-unit kegiatan KWU sehingga tercipta sinergi yang kuat untuk menuju pencapaian sasaran program.
  6. Unit kegiatan Bimbingan Karir di Universitas dapat berperan serta dalam membimbing dan mengarahkan mahasiswa pada pilihan karirnya  yaitu untuk mencari kerja atau menciptakan kerja (menjadi wirausaha mandiri).
  7. Untuk efisiensi pelaksanaan kegiatan, sebaiknya Unit Kegiatan Inkubator Bisnis  digabung dengan Unit kegiatan Layanan Pendidikan dan Pelatihan & Penempatan Kerja, yang  memberikan pelayanan sebagai berikut;

1)       Pelayanan Management;

Pendidikan dan Pelatihan mengelola organisasi, entrepreneurship, manajemen keuangan, komunikasi organisasional, pengambilan keputusan, dan sebagainya.

2)      Pelayanan di bidang Teknologi;

Penerapan teknologi, inovasi produk, dan sebagainya.

3)      Pengembangan modal dan keuangan;

Akses keuangan, akses asistensi/bantuan, kredit lunak, melakukan monitoring & analysis, akuntansi, penanaman modal, dan sebagainya.

  1. Perlu adanya kegiatan Kompetisi Bussiness Plan yang diikuti oleh kelompok-kelompok mahasiswa berbagai bidang studi sebagai hasil karya bisnis inovatif yang bertujuan untuk mengembangkan ide bisnis dan motivasi berwirausaha, selain bisa dijadikan ajang kompetisi juga bisa dijadikan ajang pencarian dukungan dana atau penanaman modal dari pihak-pihak calon investor yang diundang sebagai bagian dari tim juri.
  2. Perlu dihidupkan kembali kegiatan pengenalan Kewirausahaan melalui kegiatan OSPEK dan kegiatan General stadium  sebagai sarana pengenalan kewirausahaan dan sosialisasi unit-unit kegiatan dalam program pengembangan pendidikan kewirausahaan di UNS.

        Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut; (1) memerlukan pembuatan film-film succses story wirausahawan UKM yang lebih banyak dan variatif yang mencakup berbagai macam usaha. Untuk keperluan ini membutuhkan dukungan biaya dan kerjasama dari pihak Universitas (LPKWU) dan para wirausahawan sukses. (2) Akan lebih baik apabila dilakukankan ujicoba lagi dengan skala yang lebih luas, pemakaian desain produk pembelajaran pendidikan kewirausahaan dengan pemodelan wirausahawn UKM sukses ini. (3) Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk Pengembangan Desain Pembelajaran  Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi.

 

DAFTAR RUJUKAN

Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Jenjang Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta:BSNP.

Balian, E. S. 1982.  How To Design, Analyze, and Write Doctoral Research: The Practical Guidebook. Boston,MA: University Press ofAmerica.

Bandura, A. 1969.  Principles of Behaviour Modification. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Bandura, A. 1977.  Social Learning Theory.Englewood Cliffs. N.Y.: Prentice Hall, Inc.

Blommers, P. J. & Forsyth, R. A. 1977. Elementary Statistical Methods in Psychology and Education (2nd Ed.).Boston,MA: Houghton Mifflin Co.

Brown, C. 2000. Entrepreneurial Teaching Guide, December, 2000 Digest, Number 00-7, (on line), (Http:// www. Celcee edu, diakses 24 Januari 2005).

Choi, T. Y. 2003. Korea’s Small and Medium Sized Entreprizes: Unsung Heroes or Economic Laggard. The Academy of Management Executive Journal: The Thinking Manager’s Source, Vol. 17, No. 2, 128-133.

Coulter, M. 2003Entrepreneurship in Action.  New Yersey: Prentice Hall

Departemen Pendidikan Nasional. 2004.  Pedoman Pengembangan Sistem Asesmen Berbasis Kompetensi Program Studi PGTK, PGSD, PGSMP/SMA, dan PGSMK.  Jakarta: Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan, Dikti.

De Faiote,D, Henry, C, Johnston, K & Sijde, P.v.d. 2003. Education and Training for Entrepreneurs: A Consideration of Initiatives in Irelandand The Netherlands. Education & Training Journal, vol. 45. Iss. 8/9, pg.430, 9 pgs.

Galloway,L & Brown, W. 2002. Entrepreneurship Education at University: A Driver in The Creation of High Growth Firm?. Education & Training Journal, Vol. 44, Iss. 8/9, pg. 398, 8 pgs.

*Gede, Raka. 2004…………

Hergenhahn, B.R. 1982.  An Introduction to Theories of Learning.EnglewoodCliff,N.Y.: Prentice Hall, Inc.

Henderson, R & Robertson, M, 1999. Who Wants to be an Entrepreneur? Young Adult Attitudes to Entrepreneurship as a Career. Education & Training Journal. Vol.41,Iss. 4/5.pg 236, 10 pgs.

Hyne, B. 1996. Entrepreneurship and Training-Introducing Entrepreneurship into Non-Business Disciplines. Journal of European Industrial Training. Vol. 20, Iss.8, pg.10.

Idrus, Syafiie. 1999.  Strategi Pengembangan Kewirausahaan (Entrepreneurship) dan Peranan Perguruan Tinggi Dalam Rangka Membangun Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Bangsa Indonesia Pada Milenium Ketiga.  Pidato pengukuhan jabatan guru besar dalam ilmu manajemen kuantitatif pada Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya.

Jack, S. L. & Anderson, A. R. 1999. Entrepreneurship Education within the Entreprice Culture: Producing Reflective PractitionersInternational Journal of Entrepreneurial Behaviour and Research, Vol. 5, No. 3, 110-125.

Kaplan, J. M. 2001.  Getting Started in Entrepreneurship: A Practical in Depth Guide. New York: John Wiley & Sons.

Kemp, J.E., Morrison & Ross., 1994.,Instructional Design: A Plan for Unit and Course Development.California: Fearon Publications.

Lambing, P. A. & Kuehl, C. R. 2003. Entrepreneurship. New Yersey: Prentice Hall..

Longenecker, J. G., Moore, C. W. & Petty, J. W. 2001. Kewirausahaan: Manajemen Usaha Kecil. Buku I & II (alih bahasa Thomson Learning Asia).Jakarta: Salemba Empat.

Mukhadis, Amat 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Rambu-Rambu Implementasinya di Perguruan Tinggi. Makalah disajikan pada dialog interaktif dan pelatihan pengembangan kurikulum di Universitas 17 Agustus 1945Surabaya.

Murtini, Wiedy. 2004.  Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi: Sebuah Gagasan Pemodelan Wirausaha Kecil dan Menengah Sukses. Forum Pendidikan, Vol. 29, No. 02, Agustus 2004, 141-155.

Priyanto, Sonny, & Heru,. 2002. Pengembangan Kapasitas Manajemen dan Kewirausahaan pada UKM Pertanian. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. VIII, No. 3, 401-424.

Rae, D & Carswell, M. 2000. Using a Life Story Approach in Researching Entrepreneurial Learning: The Development of a Conceptual Model and its Implications in The Design of Learning Experiences. Education & Training Journal,  Vol. 42. Iss. 4/5, pg. 220, 8 pgs.

Samani, Mukhlas,. 2007. Menggagas Pendidikan Bermakna; Integrasi Life Skill-KBK-CTL-MBS.Surabaya: SIC.

Suryana. 2003.  Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju SuksesJakarta: Prehalindo.

Tambunan, Tulus, T. H. 2002.  Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia: Beberapa Isu Penting.  Jakarta: Salemba Empat.

*Tolla. 2002………

Tim KWU Kewirausahaan. 2003.  Buku Ajar Kewirausahaan.  Surakarta: Universitas Sebelas Maret.


Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.